Minggu, 13 Mei 2018

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam ~ Pada saat Kerajaan Demak mengalami kemunduran sepeninggal Sultan Trenggono, Hadiwijaya (Joko Tingkir) dengan bantuan Ki Ageng Pemanahan berhasil merebut takhta Demak dan mendiri Kerajaan Pajang. Atas jasanya tersebut, Hadiwijaya kemudian menghadiahkan daerah Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Dalam perkembangannya Mataram menjadi kerajaan besar yang menggantikan Kerajaan Pajang dan menaklukkan banyak kerajaan di Jawa. | Catatan Siswa

Kerajaan Mataram Islam, Sejarah Kerajaan Mataram Islam, Berdirinya Kerajaan Mataram Islam, Bukti Sejarah Kerajaan Mataram Islam, Peninggalan Kerajaan Mataram Islam, Raja-raja Kerajaan Mataram Islam, Lokasi Kerajaan Mataram Islam, Letak Kerajaan Mataram Islam, Wilayah Kerajaan Mataram Islam.
Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Islam | www.catatansiswa.com

1. Kondisi Geografis

Kerajaan Mataram terletak di pedalaman Jawa Tengah dengan pusatnya di kota Gede. Wilayah Kerajaan Mataram dikelilingi oleh jajaran gunung dan pegunungan seperti Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu,  Gunung Ungaran, Pegunungan Serayu, Pegunungan Kendang, dan Pegunungan Sewu. Di antara jajaran gunung dan pegunungan tersebut mengalir sungai-sungai besar seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo, dan Sungai Bengawasan Solo. Sebagian besar tanah di Mataram merupakan tanah aluvial dan vulkanik yang berasal dari endapan material sungai dan gunung api. Tanah ini sangat subur sehingga cocok untuk aktivitas pertanian. Kondisi ini mendorong perkembangan ekonomi agraris Kerajaan Mataram.
2. Kehidupan Politik

Keberadaan Mataram sebagai kerajaan Islam dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan pada pertengahan abad XVI. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Panembahan Senopati (1584-1601) Mataram mulai melakukan politik ekspansi untuk menaklukkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Demak, Madiun, Kediri Pnorogo, Tuban, dan Pasuruan. Akan tetapi, usahanya menaklukkan Surabaya gagal. Sepeninggal Panembahan Senopati, politik ekpasnsi Kerajaan Mataram dilanjutkan oleh Sultan Agung. Ia bercita-cita menyatukan seluruh Pulau Jawa di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan. Seluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk Madura mengakui kedaulatan Mataram. Surabaya berhasil ditaklukan pada tahun 1625. Di Jawa Barat kekuasaan Mataram tertanam di wilayah Cirebon, Sumedang, dan Ukur. Akan tetapi, ambisi Sultan Agung mempersatukan seluruh Pulau Jawa di bawah kekuasaan Mataram tidak berhasil. Sultan Agung tidak bisa menaklukkan Banten yang menjadi saingannya di barat. Sultan Agung juga gagal mengusir VOC dari Pulau Jawa.
Pada tahun 1628 dan 1629 Sultan Agung menyerang kedudukan VOC di Batavia. Serangan pertama tahun 1628 mengalami kegagalan dan Mataram menderita kerugian besar. 

Selanjutnya, pada tahun 1629 Sultan Agung mencoba melakukan serangan kedua. Akan tetapi, serangan ini juga mengalami kegagalan. VOC berhasil menghancurkan gudang-gudang besar yang ditemukan di Tegal dan Cirebon. VOC juga menghancurkan kapal-kapal yang akan digunakan mengangkut pasukan Mataram ke Batavia. Oleh karena itu, pasukan Mataram terpaksa menempuh perjalanan darat yang berat menuju Batavia. Pasukan Mataram mengalami kelelahan dan kelaparan sehingga dapat dikalahkan dengan mudah oleh VOC.

BACA JUGA: Sejarah Kerajaan Aceh

Setelah Sultan Agung wafat pada tahun 1645, Kerajaan Mataram mulai mengalami kemunduran. Mataram tidak memiliki pemimpin barat yang mampu mengendalikan kekuasaan secara baik. Pada tahun 1755 melalui Perjanjian Gayanti, Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua wilayah, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

3. Kehidupan Ekonomi

Mataram merupakan kerajaan agraris yang mengutamakan perekonomian di bidang pertanina. Kondisi tanah yang subur menyebabkan hasil pertanian melimpah. Melimpahnya hasil pertanian juga didukung oleh jumlah tenaga kerja yang besar. Oleh karena itu, pertanian di Mataram dapat berkembang pesat. Pertanian Mataram menghasilkan beras dalam jumlah banyak. Beras merupakan komoditas dagang utama dari Mataram. Pada abad XIV Mataram dikenal sebagai kerajaan penghasil beras terbesar di Indonesia. Pada masa Sultan Agung, Mataram mengembangkan sektor perdagangan. Sultan Agung menggunakan kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa untuk mengekspor beras Mataram. Selain itu, Mataram mengimpor beberapa barang asing melalui pelabuhan di pesisir utara Jawa tersebut.

4. Kehidupan Agama

Pada masa Kerajaan Mataram nilai-nilai Islam sudah berakulturasi dengan kebudayaan lokal dan Hindu-Buddha. Sultan Agung mendorong perkembangan akulturasi kebudayaan tersebut. Sultan Agung berusaha untuk memasukkan nilai-nilai dalam tradisi Jawa. Proses akulturasi ini terlihat pada pembuatan kalender Jawa yang menggabungkan tahun Hijriah dan tahun Saka. Selain itu, Sultan Agung menuli kitab Sastra Gendhing yang menjelaskan ajaran 'manunggaling kawula gusti' atau bersatunya Tuhan dengan manusia. Ajaran ini pertama kali diperkenalkan oleh Syekh Siti Jenar dari Demak. Dalam perkembangannya ajaran 'manunggaling kawula gusti' tersebut sangat berpengaruh terhadap kepercayaan kejawen di Mataram. Kejawen merupakan kepercayaan hasil sinkretisme antara agama Islam dan kepercayaan lokal masyarakat Jawa. Bagi sebagian masyarakat Mataram kejawen telah menjadi kepercayaan sekaligus pandangan hidup orang Jawa yang menekankan ketenteraman, keselarasan, dan keseimbangan antara lahir dan batin.

5. Kehidupan Sosial Budaya

Sebagai kerajaan agraris yang terletak di pedalaman Jawa Tengah, kehidupan sosial masyarakat Mataram bersifat feodal. Dalam sistem feodalisme drajat seseorang dalam masyarakat dinilai berdasarkan besar kecilnya tanah yang dimiliki. Sistem feodalisme di Mataram memunculkan struktur masyarakat baru berdasarkan atas penguasaan tanah. Struktur masyarakt tersebut terdiri atas golongan bendoro (raja dan bangsawan), priyayi (pegawai kerajaan), dan wong cilik (rakyat). Kehidupan masyarakat feodal sangat erat dengan hubungan patron klien (atasan-bawahan). Dalam hubungan ini, raja sebagai patron harus mampu mengayomi rakyatnya dengan baik dan rakyat sebagai klien harus patuh dan setia pada raja.

Kebudayaan Jawa di Mataram berkembang pesat pada masa pemerintahan Sultan Agung. Pada masa ini tercipta tradisi Grebeg Maulud yang merupakan perpaduan antara kebudayaan Hindu dan Islam. Para pujangga Mataram juga menulis beberapa karya sastra yang diilhami oleh cerita Ramayana, seperti kitab Nitisuri, Nitisastra, dan Astabrata.
Demikianlah penjelasan mengenai sejarah Kerajaan Mataram Islam, semoga dari penjelasan di atas kita dapat lebih tahu tentang jati diri bangsa kita melalui cara mempelajari sejarah. Jika ada pertanyaan mengenai pemaparan sejarah di atas, silahkan tuliskan pertanyaan tersebut di kolom komentar di bawah. Terima kasih atas perhatiannya.

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Islam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Aleesya Fathoni

1 komentar: