Senin, 09 April 2018

Sejarah Lengkap Kerajaan Gowa Tallo

Kesultanan Gowa Tallo merupakan gabungan dua kerajaan kecil bernama Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan tersebut membangun ibu kota Makassar di pantai barat Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa Tallo kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan di Indonesia Timur. Makassar menjadi bandar penghubung antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Selanjutnya, pada tahun 1608, Makassar berkembang menjadi pusat kerajaan Gowa Tallo dengan raja pertama bernama Karaeng Matoaya yang bergelar Sultan Alaudin. | Catatan Siswa

Kerajaan Gowa Tallo, Sejarah Kerajaan Gowa Tallo, Letak Kerajaan Gowa Tallo, Lokasi Kerajaan Gowa Tallo, Wilayah Kerajaan Gowa Tallo, Berdirinya Kerajaan Gowa Tallo, Raja-raja Kerajaan Gowa Tallo, Runtuhnya Kerajaan Gowa Tallo, Keadaan Politik Kerajaan Gowa Tallo, Bukti Sejarah Kerajaan Gowa Tallo, Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo.
Sejarah Lengkap Kerajaan Gowa Tallo | www.catatansiswa.com

1. Kondisi Geografis

Kerajaan Gowa Tallo memiliki letak yang strategis karena berada di pantai barat Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa Tallo beribu kota di Makassar dibatasi oleh Selat Makassar di sebelah barat, Laut Flores di sebelah selatan, dan teluk Bone di sebelah timur. Keadaan alam tersebut mendorong masyarakat Makassar menjadi pelaut ulung. Selain itu, Makassar memiliki kondisi tanah yang relatif datar. Dengan keberadaan dua sungai, yaitu Sungai Tallo dan Sungai Jeneberang, tanah di sekitar Kota Makassar dapat dikelola menjadi lahan pertanian. Kedua sungai tersebut sering mengendapkan sedimen lumpur yang kemudian membentuk tanah aluvial. Tanah ini bersifat subur dan cocok untuk pertanian. Dengan kondisi tanah yang subur dan letak strategis, Kerajaan Gowa Tallo dapat berkembang sebagai kerajaan besar di Indonesia.

2. Kehidupan Politik

Pada masa pemerintahan Sultan Alaudin (1593-1639), kerajaan Gowa Tallo berkembang menjadi kerajaan Islam. Sultan Alaudin berusaha untuk mengislamkan berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan. Upaya itu mendapat perlawanan dari Kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng yang kemudian membentuk persekutuan Tellum Pocco (tiga kekuasaan). Akan tetapi, satu persatu kerajaan tersebut dapat ditaklukkan oleh Sultan Alaudin. Selain menaklukkan kerajaan-kerajaan tetangga di Sulawesi Selatan, Sultan Alaudin memperluas pengaruh Kerajaan Gowa Tallo hingga ke bagian timur kepulauan Nusa Tenggara. Berbagai penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Alaudin mendorong perkembangan pelayaran dan perdagangan Gowa Tallo. Perkembangan pelayaran dan perdagangan menyebabkan kesejahteraan masyarakat Gowa Tallo.

Kerajaan Gowa Tallo mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Ia berhasil membangun Gowa Tallo menjdai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan di Indonesia Timur. Sultan Hasanuddin sangat menentang tindakan VOC melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia Timur. Upaya Sultan Hasanuddin tersebut menimbulkan kemarahan VOC. Oleh karena itu, pada tahun 1666 VOC mengirimkan armada perangnya ke Makassar. Pemimpin armada tersebut adalah Corenlis Speelman yang kelak menjadi Jendral VOC. Ia juga mendapat bantuan dari Aru Palaka (Raja Bone) yang merupakan musuh Sultan Hasanuddin.

Perlawanan yang dilakukan oleh Sultan Hasanuddin terhadap VOC berlangsung sangat sengit. Oleh karena itu, Sultan Hasanuddin mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur. Dalam pertempuran di dekat Butung, Speelman berhasil menghancurkan armada laut Gowa Tallo. Sementara itu, Aru Palaka memimpin serangan melalui daratan yang sangat sulit. Karja sama yang dilakukan antara VOC dan Aru Palaka akhirnya bisa mengalahkan kerajaan Gowa Tallo. Selanjutnya, pada tahun 1667 Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya yang berisi kepastian berikut:

  • VOC memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar.
  • VOC mendirikan benteng pertahanan di Makassar.
  • Gowa Tallo harus melepaskan daerah-daerah kekuasaannya.
  • Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.


3. Kehidupan Ekonomi

Kerajaan Gowa Tallo memiliki letak strategis. Kedekatan geografis dengan Maluku menyebabkan kerajaan Gowa Tallo menjadi pintu gerbang perdagangan rempah-rempah. Pelabuhan Sombaopu berkembang menjadi bandar transit yang berperan sebagai penghubung jalur perdagangan antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Kondisi ini kemudian mendorong Gowa Tallo berkembang menjadi kerajaan maritim yang menitikberatkan kegiatan perekonomiannya pada sektor perdagangan dan pelayaran. Barang-barang yang diperdagangkan di Gowa Tallo antara lain rempah-rempah dari Maluku, kapur barus dari Sumatera, kermaik dari Cina, dan kayu cendana dari Jawa.

4. Kehidupan Agama

Perkembangan Islam di Gowa Tallo berkaitan erat dengan peran Datuk ri Bandang dari Minangkabau. Bersama Datuk Patimang dan Datuk ri Tiro, Datuk ri Bandang menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Berkat usaha tokoh-tokoh tersebut, pada tahun 1605 penguasa Gowa Tallo yang bernama Karaeng Matoaya memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Alaudin. Setelah Sultan Alaudin memluk Islam, proses islamisasi di Sulawesi Selatan berkembang pesat. Pada masa pemerintahan Sultan Alaudin, kerajaan Gowa Tallo menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Sulawesi. Pada pertengahan abad XVII masehi, di Gowa Tallo berkembang ajaran sufisme dari tarekat khalwatiyah yang diajarkan oleh Syekh Yusuf al-Makasari.

5. Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan sosial masyarakat Gowa Tallo cenderung bersifat feodalisme. Masyarakat Gowa Tallo dibedakan atas tiga kelas, yaitu karaeng (golongan bangsawan), tuamsarag (rakyat biasa), dan ata (budak). Rakyat Gowa Tallo sangat setia pada rajanya. Kesetiaannya ini terlihat saat Sultan Alaudin memeluk Islam, rakyat Gowa Tallo kemudian mengikuti agama yang dianut oleh rajanya.

Budaya yang dimiliki masyarakat Gowa Tallo sangat berkaitan dengan perdagangan dan pelayaran. Sebagai kerajaan maritim, Gowa Tallo memiliki industri pembuatan kapal yang maju. Kapal layar pinisi buatan masyarakat Gowa Tallo mampu mengaruhi samudera hingga Australia, India, Timur Tengah, dan pantai timur Afrika. Masyarakat Gowa Tallo juga terampil dalam membangun rumah adat, Balla Lompoa yang berbentuk rumah panggung. Rumah adat ini memiliki jumlah tiang kayu yang banyak. Tiang-tiang tersebut merupakan lambang status sosial dalam masyarakat. Rumah seorang bangasawan memiliki tiang lebih banyak dibanding rumah seorang budak.

Demikianlah penjelasan mengenai Sejarah Kerajaan Gowa-Tallo, semoga apa yang disampaikan di atas dapat mudah diterima dan tentunya juga bermanfaat. Mempelajari sejarah itu punya keasyikan tersendiri, kita serasa dibawa kembali ke masa lalu dengan hanya membacanya saja. Yuk, sering-sering baca sejarah agar kita bisa lebih bijak dalam bertindak di masa depan. Terima kasih sudah mau berkunjung dan membaca.

Sejarah Lengkap Kerajaan Gowa Tallo Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Aleesya Fathoni

0 komentar:

Posting Komentar