Senin, 09 April 2018

Sejarah Lengkap Kerajaan Banten

Kesultanan Banten ~ Pada awalnya Banten merupakan salah satu pelabuhan penting yang dikuasi oleh Kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu. Akan tetapi, setelah Fatahillah berhasil mengalahkan Portugis dalam pertempuran di Sunda Kelapa, wilayah Banten menjadi kekuasaan Demak. Selanjutnya, untuk menjalankan roda pemerintahan di Banten, Fatahillah mengangkat putranya yang bernama Maulana Hasanuddin sebagai penguasa di Banten. Sejak saat itu Banten mulai berkembang menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di ujung barat pulau Jawa. | Catatan Siswa

Kerajaan Banten, Lokasi Kerajaan Banten, Letak Kerajaan Banten, Wilayah Kerajaan Banten, Sejarah Kerajaan Banten, Bukti Sejarah Kerajaan Banten, Peninggalan Kerajaan Banten, Raja-raja Kerajaan Banten, Kejayaan Kerajaan Banten, Runtuhnya Kerajaan Banten, Pendiri Kerajaan Banten.
Sejarah Lengkap Kerajaan Banten | www.catatansiswa.com

1. Kondisi Geografis

Banten memilii wilayah strategis untuk dikembangkan sebagai pusat perdagangan internasional. Banten terletak di tepi Selat Sunda yang merupakan pintu gerbang Kepulauan Indonesia. di bagian selatan. Sejak jatuhnya Malaka ke tangah Portugis pada tahun 1511, jalur pelayaran dan perdagangan di Selatan Sunda semakin ramai. Kondisi ini secara otomatis berpengaruh terhadap perkembangan Banten sebagai kerajaan Islam di bagian barat Jawa. Dengan semakin ramainya jalur pelayaran di Selat Sunda, pelabuahn Banten sering dikunjungi oleh pedagang asing.

2. Kehidupan Politik

Maulana Hasanuddin merupakan raja pertama Banten yang berkuasa pada tahun 1522-1570. Pada masa pemerintahan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan penting di Selat Sunda. Ia juga memperluas kekuasaan Banten ke daerah penghasil lada di Lampung. Dengan demikian, Hasanuddin telah menciptakan dasar-dasar kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Setelah Hasanuddin wafat pada tahun 1570, ia digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Yusuf (1570-1580). Di bawah kepemimpinan Maulaan Yusuf, Kerajaan Banten berhasil menaklukkan Kerajaan Pajajaran, pamor Banten semakin meningkat dengan kekuasaanya yang bertaham luas. Wilayah kekuasaan banten saat itu hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) Banten mencapai puncak kejayaan. Sultan Ageng Tirtayasa berhasil memajukan perdagangan Banten. Untuk menjaga keamanan di Selat Sunda, ia membangun armada laut yang kuat. Kapal-kapal dagang Banten aktif menyelenggarakan perdagangan di Indonesia. Sultan Agung Tirtayasa juga menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara asing seperti Inggris, Perancis, Cina, Persia, dan Arab. Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa menjali hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara seperti Aceh Darussalam, Makassar, Cirebon, dan Ternate. Hubungan tersebut selain untuk meningkatkan perdagangan, juga bertujuan mencuri dukungan dalam melawan VOC yang berkuasa di Batavia.

3. Kehidupan Ekonomi

Sebagai kerajaan yang terletak di pesisir Selat Sunda, aktivitas perdagangan di pelabuhan Banten berkembang pesat. Pelabuhan Banten berubah menjadi bandar transit yang ramai disinggahi kapal-kapal asing untuk membeli lada. Pada abad XVI-XVII Masehi, lada menjadi salah satu komoditas perdagangan yang memiliki nilai jual tinggi. Pada saat itu Banten merupakan salah satu penghasil lada yang besar di Indonesia. Para penguasa Banten menaruh perhatian lebih terhadap perkembangan tanaman lada. Bahkan, mereka melakukan politik ekspansi untuk menaklukkan daerah penghasil lada di Lampung.

Selain mengembangkan tanaman lada, para penguasa Banten mengembangkan pertanian sawah untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduknya. Pada tahun 1663-1677, Sultan Ageng Tirtayasa membangun sistem irigasi besar-besaran di Kerajaan Banten. Kanal-kanal baru sepanjang 30-44 km dibangun dengan memperkerjakan hingga 16000 orang. Kanal-kanal ini mampu mengairi sekitar 30.000-40.000 daerah penghasil lada di Lampung.

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa kehidupan ekonomi masyarakat Banten sangat makmur. Ibu kota Banten diperkirakan mengalami pertumbuhan jumlah penduduk dari sekitar 150.000 jiwa pada awal kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi 200.000 pada akhir kekuasaannya. Ibu kota Banten, Kota Surosowan, berkembang menjadi kota kosmopolitan. Kota ini dihuni banyak pedagang asing.

4. Kehidupan Agam

Sejak masa pemerintahan Maulan Hasanuddin penyebaran Islam di Banten dilakukan secara intensif. Maulana Hasanuddin merupakan tokoh sekligus penguasa pertama di Banten yang menyebarkan agama Islam. Ia menjadikan Banten sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa bagian barat.

Demi menyebarkan Islam di Pulau Jawa bagian barat, Hasanuddin membuat tiga perubahan besar. Pertama, perubahan di bidang politik. Maulana Hasanuddin mengubah politik dan permerintahan yang bersumber dari Hindu-Buddha menjadi politik bernuansa Islam. Wilayah Banten yang semula hanya sebuah kadipaten dari Kerajaan Pajajaran, dibuah menjadi suatu negara berdaulat. Kedua, perubahan dalam bidang kebudayaan. Maulana Hasanuddin mencoba memadukan kebudayaan Islam dengan kebudayaan Sunda yang bercorak Hindu. Tindakan ini dilakukan agar Isalm lebih mudah dikenal oleh penduduk lokal. Ketiga, perubahan ekonomi. Maulan Hasanuddin melakuka perubahan ekonomi dengan cara memindahkan pusat pemerintahan dari Banten Girang ke Surosowan yang berada di pesisir pantai. Kota Surosowan yang dibangun di wilayah pesisir, sangat potensial untuk mengembangkan ekonomi. Selain itu, Banten lebih mudah dalam menjalin kerjasama dengan kerajaan-kerajaan lain dalam mendukung perkembangan agama Islam di Banten. Dengan ketiga perubahan tersebut, Maulana Hasanuddin mampu mengislamkan Banten.

5. Kehidupan Sosial Budaya

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Surosowan telah dihuni oleh berbagai etnik dan bangsa. Masyarakat Banten juga mengembangkan sikap toleransi. Meskipun sebagian besar masyarakat Banten beragama Islam, mereka menghargai kepercayaan yang dianut oleh masyarakat lain. Bentuk toleransi tersebut nampak terlihat dengan adanya bangunan klenteng di Kampung Pecinan yang dihuni oleh etnik Tionghoa. 

Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, Banten memiliki bangunan-bangunan yang bernuansa Islam. Salah satunya adalah masjid Agung Banten. Menara masjid Agung Banteng memiliki bentuk unik karena tampak seperti menara mercusuar. Menara masjid tersebut dibangun oleh seorang Belanda yang masuk Islam bernama Jan Lucas Cardeel.

Demikianlah penjelasan mengenai Sejarah Kerajaan Banten. Semoga apa yang dijelaskan di atas bisa bermanfaat dan juga bisa menjadi materi tambahan untuk kalian yang sedang belajar tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia. Apabila ada pertanyaan, langsung saja tulis melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih...

Sejarah Lengkap Kerajaan Banten Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Aleesya Fathoni

0 komentar:

Posting Komentar