Sabtu, 17 Februari 2018

Sejarah Lengkap Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya tumbuh di Sumatra pada abad VII-XIII Masehi. Berita tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya diketahui dari enam prasasti yang tersebar di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Keenam prasasti tersebut adalah prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, Kota Kapur, Karang Birahi, dan Ligor. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan Melayu. Selain itu, kabar dari China dan Arab menyebutkan keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Menurut berita China, Kerajaan Sriwijaya pernah disebut Shih-lo-fo-shih atau Fo-shih. Berita ini diperkuat oleh catatan perjalanan I-Tsing, seorang pendeta Budhis dari China. Dia menceritakan bahwa di Sriwijaya ada seribu biksu Budha yang memiliki agama seperti di India. Berita dari Dinasti Tang juga menceritakan pengiriman utusan dari Sriwijaya pada 971-992. Sementara itu, berita Arab menyebutkan Sriwijaya dengan nama Zabag, Zabay, atau Sribuza. | Catatan Siswa

Kerajaan Sriwijaya, Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Bukti Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Letak Kerajaan Sriwijaya, Lokasi Kerajaan Sriwijaya, Keadaan Politik Kerajaan Sriwijaya, Agama Kerajaan Sriwijaya, Pendiri Kerajaan Sriwijaya, Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, Agama Kerajaan Sriwijaya, Raja-raja Kerajaan Sriwijaya.
Sejarah Lengkap Kerajaan Sriwijaya | www.catatansiswa.com

1. Kondisi Geografis

Menurut George Coedes, lokasi Kerajaan Sriwijaya ada di tepian Sungai Musi atau sekitar Bukit Siguntang dan Kota Pelambang, Sumatera Selatan. Sungai Musi adalah sungai terpanjang di Sumatera Selatan. Sungai Musi memiliki panjang 750 km dan membagi kota Palembang menjadi dua bagian; Seberang Ilir di utara, dan Seberang Ulu di selatan. Sungai Hulu Musi terletak di mata air di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, dan bermuara ke Selat Bangka.

Selain digunakan untuk irigasi pertanian, Sungai Musi digunakan untuk perikanan. Berbagai jenis ikan hidup di sungai ini dengan populasi cukup untuk memenuhi kebutuhan Kerajaan Sriwijaya. Sungai Musi menjadi sarana transportasi utama bagi masyarakat Sriwijaya. Dari daerah ini, Sriwijaya kemudian berteban menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Pada puncak kerjayaannya, wilayah Sriwijaya mencakup Kamboja, Thailand, Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

2. Kehidupan Politik

Awal Kerajaan Sriwijaya belum diketahui pasti. Ketidakpastian ini karena informasi yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya masih terbatas. Nama 'Sriwijaya' pertama kali ditemui di prasasti Kota Kapur tahun 689 yang ditemukan di Pulau Bangka. Dalam bahasa Sanskerta, nama 'Sriwijaya' memiliki arti kemenangan gemilang (kata sri berarti cahaya, dan wijaya berarti kemenangan). Awalnya, Sriwijaya hanyalah sebuah kerajaan kecil. Informasi ini didapat dari catatan I-Tsing yang pernah mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671. Saat itu di Selat Malaka ada tiga kerajaan; Sriwijaya, Melayu, dan Kedah. Namun, I-Tsing mengunjungi Sriwjaya pada tahun 695 untuk menyebutkan Kerajaan Melayu Kedah telah menjadi kerajaan bawahan Sriwijaya. Kemungkinan sebelum tahun 695 Kerajaan Melayu dan Kedah telah ditaklukan Sriwijaya.

Politik ekspansi Sriwijaya dimulai pada masa pemerintahan Dapunta Hyang Sri Jayanesa (671-702). Saat itu Kerajaan Sriwijaya berhasil memperluas wilayahnya ke Jambi dengan menaklukkan Minangatamwan yang sebelumnya merupakan kekuatan Kerajaan Melayu. Kawasan ini memiliki arti strategis di bidang ekonomi karena terletak pada jalur perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka. Dengan kontrol wilayah ini, Sriwijaya memulai perannya sebagai kerajaan maritim yang berpengaruh di Selat Malaka.

Berdasarkan prasasti Kota Kapur, pada tahun 686 Sriwijaya berhasil menguasai bagian selatan Sumatera, Bangka dan Belitung, seta Lampung. Prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanesa meluncurkan sebuah ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tak berbakti kepada Sriwijaya. Kemungkinan Bhumi Jawa yang dimaksud adalah Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Kalingga di Pulau Jawa. Ekspansi politik yang diluncurkan oleh Dapunta Hyang Sri Janesa telah membuat Kerajaan Sriwijaya mampu mengenali rute perdagangan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Cina Selatan, Laut Jawa dan Selat Karimata.

Pada masa pemerintahan Balaputradewa (856-861), kerajaan Sriwijaya mencapai masa jayanya. Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Sriwijaya berhasil mengendalikan jalur perdagangan laut yang menghubungkan kawasan Timur Tengah-India-China. Selain itu, Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan pengajaran Buddhisme di Asia Tenggara. Pada tahun 860 Raja Balaputradewa telah menjalin hubungan persahabatan dengan Raja Dewapaladewa dari India. Dalam prasasti Nalanda disebutkan bahwa Raja Dewapaladewa mendapat sebidang tanah untuk mendirikan sebuah biara bagi para pendeta Sriwijaya yang belajar agama Buddha di India.

Setelah pemerintahan Balaputradewa, nasib Kerajaan Sriwijaya sedikit diketahui. Selanjutnya, pada abad X, Kerajaan Sriwijaya mulai mengalami masa penurunan yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
  • Ada perubahan keadaan alam sekitar Palembang. Sedimen lumpur yang dibawa oleh Sungai Musi menyebabkan posisi Kota Palembang jauh dari laut sehingga perahu sulit dipasang.
  • Lokasi Palembang semakin jauh menjadikan kawasan ini kurang strategis sebagai pusat perdagangan. Sementara itu, pembukaan Selat Berhala antara Pulau Bangka dan Pulau Singkep membuat Jambi lebih strategis sebagai pusat perdagangan dari Palembang.
  • Dalam politik, Sriwijaya memiliki Angkatan Laut yang andal. Namun, setelah kekuasaan Medang Kamulan di Jawa Timur berkembang di masa Airlangga, armada laut Sriwijaya dikalahkan oleh Medang Kamulan. Oleh karena itu, Sriwijaya terpaksa mengakui Medang Kamulan sebagai pemegang hegemoni di bagian timur Indonesia.
  • Adapanya serangan militer di Sriwijaya. Serangan pertama terjadi pada tahun 992 oleh Raja Dharmawangsa dari Medang Kamulan. Yang kedua dilakukan oleh Raja Rajencracoladewa dari Kerajaan Colamandala atas Semenanjung Melayu pada tahun 1017. Kemudian, pada tahun 1023-1030 Raja Rajendracoladewa menyerang pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Dalam serangan tersebut, Raja Sriwijaya Sri Sanggaramawijayawarma berhasil ditangkap dan dibawa ke India. Pada 1275, Kertanegara dari Kerajaan Singasari mengirim pasukan ke Sumatera yang dikenal sebagai ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mengendalikan Melayu dan menjadikannya basis Singasari untuk membendung serangan Kubilai Khan dari China.


3. Kondisi Ekonomi

Kerajaan Sriwijaya mampu mengembangkan dirinya sebagai kerajaan maritim yang mengendalikan lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional di Asia Tenggara. Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka, Tanah Genting Kra, dan Selat Sunda yang menjadi denyut nadi perdagangan di Asia Tenggara. Bandar Sriwijaya berkembang menjadi pelabuhan transit yang ramai yang disinggahi kapal asing untuk mengumpulkan air minum dan persediaan makanan, dan melakukan aktivitas perdagangan. Kerajaan Sriwijaya mendapatkan banyak keuntungan dari ekspor komoditas dan pajak kapal asing yang berhenti di pelabuhan Sriwijaya.

Ada beberapa faktor yang mendorong Kerajaan Sriwijaya untuk menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, yaitu:
  • Memiliki lokasi strategis dalam jalur perdagangan internasional.
  • Kemajuan pelayaran dan perdagangan antara China dan India melalui Asia Tenggara.
  • Kejatuhan Kerajaan Funan di Indo-China. Runtuhnya Funan memberi kesempatan kepada Kerajaan Sriwijaya untuk berkembang sebagai negara maritim untuk menggantikan Funan.
  • Kemampuan Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya untuk melindungi pelayaran dan perdagangan di perairan Asia Tenggara.


4. Kehidupan Beragama

Selain sebagai pusat perdagangan, Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat pengajaran Buddha. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya adalah Mahayana. Menurut laporan i-Tsing, pada abad VII Masehi di Sriwijaya ada seribu biksu yang mempelajari agama Buddha di bawah bimbingan Sakyakirti. Sakyakirti adalah satu dari tujuh cendekiawan Buddha yang berada di periode i-Tsing. Selain mengajarkan ajaran Buddha, Sakyakirti menulis sebuah buku undang-undang yang berjudul 'Hastadandacastra'. Selain Sakyakirti, di Sriwijaya ada beberapa cendekiawan besar Budha, yaitu Wajraboddhi, dan Dharmakirti.

5. Kondisi Sosial Budaya

Berdasarkan berbagai sumber sejarah, dapat dilihat bahwa pada abad VII Masehi, kerajaan Sriwijaya adalah negara dengan masyarakat yang kompleks. Kehidupan masyarakat Sriwijaya dipengaruhi oleh Buddha Mahayana. Hubungan antara raja dan bangsanya harmonis. Informasi harmoni hubungan ini ditulis pada beberapa prasasti yang dibuat pada abad VII Masehi. Prasasti Talang Tuo, tertanggal 684, menggambarkan ritual Buddha untuk memberkati peresmian taman Srikseta. Taman ini dianggap sebagai hadiah dari Maharaja Sriwijaya kepada masyarakatnya. Prasasti Telaga Batu yang mencapai 683 menggambarkan tingkat jabatan.

Sejak abad VIII Bahasa Melayu kuno telah digunakan di Indonesia. Hubungan dagang yang dilakukan oleh berbagai kelompok etnis di Indonesia menjadi sarana penyebaran bahasa Melayu. Bahasa ini menjadi alat komunikasi bagi para pedagang. Sejak saat itu bahasa Melayu menjadi lingua franca dan digunakan secara luas oleh banyak orang di Indonesia. Meski dianggap sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, Kerajaan Sriwijaya hanya menyisakan beberapa candi seperti Muara Jambi, Muara Takus, dan Biaro Bahal. Meski demikian, Sriwijaya meninggalkan banyak patung Buddha.

Patung Buddha yang dibuat pada masa Sriwijaya meliputi patung Buddha dari Bukit Siguntang (Pelembang) dan Bodhisatwa Awalokiteswara dari Bidor, Jambi (28 buah), Silver (29 buah), dan Chaiya (20 buah). Semua patung ini menampilkan keanggunan gaya kesenian Sriwijaya yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh gaya Amarawati dari India Selatan.

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai Sejarah Kerajaan Sriwijaya, semoga dari penjelasan di atas kita dapat lebih paham tentang khasanah sejarah nusantara. Apabila ada kesalahan berupa penulisan maupun isi penjelasan dari artikel di atas, kritik dan saran dari teman-teman sekalian akan sangat berharga. Jangan lupa share ke tm

Sejarah Lengkap Kerajaan Sriwijaya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Aleesya Fathoni

0 komentar:

Posting Komentar