Minggu, 18 Februari 2018

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang di Jawa Tengah pada abad VIII Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Sanaha dari Galuh, Jawa Barat. Pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno disebut Bhumi Mataram dan terletak di pedalaman Jawa Tengah. Pada masa pemerintahan Sanjaya, Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan bercorak Hindu. Akan tetapi, setelah Sanjaya wafat, agama Buddha mulai berkembang pesat di Bhumi Mataram. Akibatnya, muncul kekuatan baru yaitu Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha. Sejak itu Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh dua dinasti berbeda, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. | Catatan Siswa

Kerajaan Mataram Kuno, Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno, Letak Kerajaan Mataram Kuno, Lokasi Kerajaan Mataram Kuno, Wilayah Kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno, Agama Kerajaan Mataram Kuno, Keadaan Politik Kerajaan Mataram Kuno, Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, Bukti Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah, Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur.
Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno | www.catatansiswa.com

1. Kondisi Geografis

Bhumi Mataram terletak di pedalaman Jawa Tengah. Wilayah Mataram terbentang di tiga daerah yaitu, Kedu, Yogyakarta, dan Surakarta. Wilayah tersebut memiliki kondisi geografis yang unik. Mataram dikelilingi oleh jajaran gunung dan pegunungan seperti Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Pegunungan Serayu, Pegunungan Kendang, dan Pegunungan Sewu. Di antara jajaran gunung dan pegunungan tersebut mengalir sungai-sungai besar seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo, dan Sungai Bengawasan Solo. Sebagian besar tanah di Mataram merupakan tanah aluvial dan vulkanik yang berasal dari endapan material sungai dan gunung api. Tanah ini sangat subur sehingga cocok untuk aktivitas pertanian. Kondisi ini mendorong perkembangan ekonomi agraris Kerajaan Mataram.

Keberadaan Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo, dan Sungai Bengawasan Solo di Mataram menambah berkah bagi masyarakat sekitarnya. Mereka memanfaatkan sungai tersebut utuk berbagai keperluan seperti irigasi pertanian, perikanan, keperluan rumah tangga, dan sarana transportasi. Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Kerajaan Mataram Kuno memanfaatkan aliran Sungai Bengawan Solo untuk sarana transportasi pelayaran sungai. Keberadaan sungai ini telah memperlancar hubungan perdagangan kerajaan Mataram Kuno dengan dunia luar. Sejak dahulu sungai-sungai besar telah memberkan peran yang penting bagi perkembangan peradaban dan kehidupan masyarkat di sekitarnya. 

2. Kehidupan Politik

Menurut prasasti Canggal yang berangka 732, pada awal kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh Sanaha. Setalah Sanaha wafat, kekuasaan dipegang oleh Sanjaya. Sanjaya adalah pendiri Dinasti Sanjaya di kerajaan Mataram Kuno. Sanjaya merupakan penganut Hindu Syiwa yang taat. Oleh karena itu, raja-raja Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya menganut agama Hindu Syiwa.

Pada masa pemerintahan Sanjaya, Mataram Kuno menjadi negara besar dan makmur. Setelah Sanjaya meninggal, kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh putranya yang bernama Rakai Panangkaran. Pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran agama Buddha di Mataram Kuno makin kuat. Pada masa ini Dinasti Syailendra yang beragama Buddha sudah terbentuk dan mulai memainkan peranan di bidang politik. Atas permohonan Raja Syailendra, pada tahun 778 Rakai Panangkaran yang beragama Hindu membangun candi Kalasan bercorak Buddha di daerah Kalasan, Yogyakarta. Tindakan Rakai Panangkaran ini menunjukkan sikap menghargai dan mengedepankan toleransi terhadap agama yang berbeda. 

Pada awalnya, Dinasti Syailendra merupakan keluarga bangsawan yang muncul di Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Perkembangan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah bagian selatan akhirnya menggeser kedudukan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu ke bagian tengah Jawa Tengah. Kemungkinan raja dari Dinasti Syailendra yang pertama berkuasa di Mataram Kuno adalah Rakai Panunggalan atau Dharanindra.
Menurut prasasti Mantyasih, Rakai Panunggalan adalah raja yang berkuasa di Mataram Kuno setelah Rakai Panangkaran. Selama berkuasa di Mataram Kuno, Rakai Panunggalan membangun banyak candi megah seperti Candi Sewu, Candi Sari, Candi Pawon, Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga (812-822).

Pada tahun 850 Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya membuat kesepakatan dengan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Mereka setuju untuk menggabungkan kedua kerajaan. Oleh karena itu, Rakai Pikatan melakukan pernikahan politik dengan Pramodawardhani (Putri Raja Samaratungga). Setelah Samaratungga wafat, Rakai Pikatan berhasil tampil sebagai penguasa tunggal di Mataram Kuno.
Masa pemerintahan Rakai Pikatan di Mataram Kuno dianggap sebagai awal kebangkitan Dinasti Sanjaya. Rakai Pikatan melebur wilayah kekuasaan Dinasti Syailendra ke dalam wilayah kekuasaannya. Meskipun demikian, Rakai Pikatan merupakan raja yang bijaksana dan toleran. Ia berusaha agar agar penduduk penganut HIndu dan Buddha di Mataram Kuno dapat hidup rukun.

Pengganti Rakai Pikatan adalah Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Rakai Kayuwangi dibantu oleh dewan penasihat yang juga bertindak sebagai pelaksana pemerintah. Dewan ini dipimpin oleh seorang mahapati. Selanjutnya, pada masa kekuasaan Rakai Dyah Balitung struktur pemerintahan kerajaan disempurnakan. Ia membantuk tiga jabatan penting di bawah raja yang disebut mahamentri. Ketiga mahamentri itu adalah Rakryan i Hino sebagai tangah kanan raja, ditambah dua pejabat lainnya, yaitu Rakryan i Hulu dan Rakryan i Sirikan. Ketiga jabatan ini merupakan tritunggal dalm struktur pemeirntahan yang selanjutnya dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan berikutnya seprti Singasari dan Majapahit.

Pada tahun 907 Rakai Dyah Balitung menulis prasasti Mantyasih yang berisi daftar silsilah raja-raja Mataram Kuno dari dinasti Sanjaya. Raja-raja tersebut antara lain Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, Rakai Pangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, dan Rakai Dyah Balitung. Prasasti Mantyasih ditemukan di Kampung Mateseh, Magelang Utara, Jawa Tengah.

Pada tahun 929 Mpu Sindok menjadi penguasa Mataram Kuno menggantikan Rakai Wawa. Semula Mpu Sindok merupakan pejabat istana yang berpangkat Rakryan Mapatih i Hino. Pada permerintahan Mpu Sindok pusat pemerintahan Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pemindahan ini disebabkan karena kerajaan Mataram Kuno mengalami kehancuran akibat letusan Gunung Merapi. Selain itu, ancaraman dari Kerajaan Sriwijaya terus mengintai Mataram Kuno. Selanjutnya, di Jawa Timur Mpu Sindok memebentuk dinasti baru bernama Isyana dan mendirikan Kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan ini beribu kota di daerah Watugaluh yang sekarang disebut Megaluh dan terletak di daerah Jombang, Jawa Timur.

Mpu Sindok memerintah kerajaan Medang Kamulan pada tahun 929-947. Pengganti Mpu Sindok adalah Dharmawangsa yang memerintah pada tahun 990-1016. Dharmawangsa pernah berusaha menyerang Kerajaan Sriwijaya pada tahun 990, tetapi mengalami kegagalan. Pada tahun 1006 Sriwijaya melakukan pembalasan, yaitu menyerang istana Watugaluh. Dalam serangan tersebut, Dharmawangsa terbunuh.

3. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi kerajaan Mataram Kuno bertumpu pada sektor pertanian. Wialay Mataram Kuno memiliki kondisi tanah yang subur sehingga cocok digunakan untuk pertanian. Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Rakai Dyah Balitung, sektor perdagangan mulai mendapatkan perhatian. Aktivitas perhubungan dan perdagangan laut dikembangkan melalui Sungai Bengawan Solo. Dyah Balitung membangun pusat-pusat perdagangan di sekitar Sungai Bengawan Solo. Penduduk di sekitar sungai diperintahakan untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut. Sebagai imbalan, penduduk di sekitar Sungai Bengawan Solo dibebaskan dari pungutan pajak. Lancarnya lalu lintas perdagangan melalui Sungai Bengawan Solo mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.

Selain di sekitar Sungai Bengawan Solo, penduduk Mataram Kuno melakukan perdagangan di pasar-pasar yang terletak di pusat kota atau desa. Kegiatan perdagangan di pasar-pasar tersebut tidak dilakukan setiap hari, tetapi bergilir menurut penanggalan kalender Jawa Kuno (kliwon, legi, pahing, pon, dan wage).  Selain pertnaian dan perdagangan, industi rumah tangga sudah berkembang di kerajaan Mataram Kuno. Hasil industri ini antara lain keranjang anyaman, perkakas dari besi, emas, tembaga, perunggu, pakaian, gula kelapa, arang, dan kapur sirih. Hasil produksi rumah tangga tersebut juga dijual di pasar.

Dari kegiatan ekonomi pertanian, perdagangan, dan industri rumah tangga tersebut kerajaan Mataram Kuno dapat menarik pajak. Raja Mataram Kuno menarik pajak dari rakyatnya melalui pegawai-pegawai bawahannya. Pajak di desa ditarik oleh pejabat di tingakt Watak yang membawahi beberapa desa. Selanjutnya, para penguasa daerah seperti Rakai dan Pamgat mempersembahkan hasil pajak tersebut kepada raja. Pajak yang diberikan bisa berupa hasil bumi dan uang.

4. Kehidupan Agama

Kerajaan Mataram diperintah oleh Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Kedua dinasti tersebut memiliki kebudayaan berbeda. Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa berkuasa di utara, sedangkan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha Mahayana berkuasa di selatan. Kedua agama tersebut dapat hidup berdampingan. Pembauran ini terlihat dengan adanya pernikahan politik antara Rakai Pikatan (dinasti Sanjaya) dan Pramodhawardhani (dinasti Syailendra). Pernikahan tersebut selain bertujuan untuk menyatukan kerajaan Mataram Kuno secara politik tetapi juga untuk mendorong kehidupan toleransi di antara para pemeluk agama Hindu-Buddha di Mataram Kuno.

5. Kehidupan Sosial Budaya

Kondisi sosial masyarakat Mataram Kuno menunjukkan gejala budaya feodal. Seluruh kekuasaan yang ada di tanah kerajaan adalah milik raja dan rakyat wajib membayar upeti kepada raja. Oleh karena itu, dalam struktur sosial, golongan raja dan bangsawan menduduki peringkat atas. Raja beserta keluarganya tinggal di istana. Menurut berita dari Cina, istana kerajaan Mataram Kuno dikelilingi dinding dari batu bata dan kayu. Di luar dinding istana terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan beserta keluarganya. Mereka tinggal dalam perkampungan khusus di sekitar istana. Para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal di tempat ini. Selanjutnya, di luar dinding kota terdapat perkampungan rakyat yang merupakan kelompok terbesar. Mereka hidup di desa-desa yang disebut Wanua.

Di antara golongan bangsawan dan rakyat terdapat golongan pedagang asing. Para pedagang asing tersebut kemungkinan besar merupakan kaum migran dari Cina. Selain itu, raja akan memberikan penghargaan kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kerajaan Mataram Kuno. Raka akan memberikan tanah kepada mereka untuk dikelola. Pada umumnya tanah tersebut berupa hutan yang kemudian dibuka menjadi pemukiman baru. Selanjutnya, orang yang diberi tanah tersebut diangkat menjadi penguasa di tempat yang dibukanya. Ia bisa berkuasa sebagai akuwu (kepala desa), senopati atau adipati (kepala daerah).

Kebudayaan masyarkat Mataram Kuno sangat tinggi. Tingginya kebudayaan itu dibuktikan dengan banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi. Prasasti peninggalan kerajaan Mataram Kuno antaralain prasasti Canggal (732), prasasti Kelurak (782), dan prasasti Mantyasih (907). Prasasti-prasasti tersebut ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Keberadaan prasasti ini menunjukkan bahwa masyarakat Mataram sudah mampu menguasai teknik penulisan dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Masyarakat Mataram Kuno dikenal dengan keunggulannya dalam bidang seni bangunan candi baik candi agama Hindu maupun Buddha. Candi agama Buddha yang paling terkenal adalah candi Borobudur. Candi ini selesai dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga. Sementara itu, candi terkenal dari agama Hindu adalah candi Prambanan yang dibangun oleh Rakai Pikatan.

Itulah pemaparan tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Dari pemaparan di atas kita bisa lihat betapa negara kita sudah memiliki kebudayaan tinggi terlihat dari beberapa bangunan berupa candi yang pernah dibuat pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Nah, tinggal tugas kita menjaga dan melestarikannya. Semoga pemaparan di atas bermanfaat. Terima kasih...

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Aleesya Fathoni

0 komentar:

Posting Komentar