Senin, 19 Februari 2018

Sejarah Lengkap Kerajaan Buleleng (Bali)

Kerajaan Buleleng adalah kerajaan Hindu tertua di Bali. Kerajaan ini berkembang pada abad IX-X Masehi. Kerajaan Buleleng diperintah oleh Dinasti Warmadewa. Prasasti yang ditemukan di Bali seperti Belanjong, Penampahan, dan Melatgede merupakan prasasti yang menggambarkan seperti apa kehidupaan pada saat dinasti Warmadewa memerintah di Kerajaan Buleleng. | Catatan Siswa

Kerajaan Bali, Sejarah Kerajaan Bali, Letak Kerajaan Bali, Lokasi Kerajaan Bali, Wilayah Kekuasaan Kerajaan Bali, Raja-raja Kerajaan Bali, Berdirinya Kerajaan Bali, Masa Kejayaan Kerajaan Bali, Runtuhnya Kerajaan Bali, Kehidupan Politik Kerajaan Bali, Kehidupan Agama Kerajaan Bali, Peninggalan Kerajaan Bali, Bukti Sejarah Kerajaan Bali.
Sejarah Lengkap Kerajaan Buleleng (Bali) | www.catatansiswa.com

1. Kondisi Geografis

Kerajaan Buleleng berada di Buleleng, Bali utara. Berlokasi di pesisir Buleleng yang menyebabkan padatnya kapal komersial dari Sumatera dan Jawa. Ciri khas wilayah Buleleng terbagi menjadi dua, yaitu dataran rendah di utara dan dataran tinggi di selatan. Penyatuan pantai dan gunung ini menyebabkan penduduk Buleleng selalu menjunjung slogan 'nyegara gunung'. Konsep nyegara gunung  berarti semua karunia alam baik dari laut maupun gunung harus disyukuri dan selalu dijaga kesuciannya.

2. Kehidupan Politik

Dinasti Warmadewa didirikan oleh Sri Kesari Warmadewa. Seperti yang tertera dari prasasti Belanjong, Sri Kesari Warmadewa sebenarnya merupakan keturunan bangsawan dari kerajaan Sriwijaya yang pada misi ingin menaklukkan kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat gagal. Kegagalan tersebut membuat Sri Kesari Warmadewa untuk lebih memilih tinggal di Bali dan mendirikan pemerintahan baru di wilayah Buleleng.

Pada tahun 989-1011, Kerajaan Buleleng diperintah oleh Udayana Warmadewa. Raja Udayana dikaruniahi dengan tiga putra, yaitu Airlangga, Marakatapangkaja, dan Anak Wungsu. Aanak pertama raja Udayana yaitu, Airlangga, kelak akan menjadi raja besar di Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur. Dituliskan di sebuah prasasti di kuil Batu Madeg, Raja Udayana menjalin hubungan dekat dengan keluarga Isyana di Jawa Timur. Hubungan ini dilakukan karena permaisuri Udayana bernama Gunapriya Dharmapatni adalah keturunan Mpu Sindok. Posisi Raja Udayana digantikan oleh anaknya, Marakatapangkaja.

Masyarakat Buleleng selalu menganggap Marakatapangkaja sebagai sumber kebenaran hukum karena selalu melindungi rakyatnya. Marakkatapangkaja membangun beberapa tempat pemujaan bagi masyarakat. Salah satu warisan Marakatapangkaja adalah kompleks candi di Gunung Kawi (Tampaksiring). Pemerintah Marakatapangkaja digantikan oleh saudaranya, Anak Wungsu. Putra Wungsu adalah raja terhebat dari Dinasti Warmadewa. Putra Wungsu berhasil menjaga kestabilan kerajaan dengan mengatasi berbagai gangguan, baik dari dalam maupun dari luar kerajaan.

Dalam menjalankan pemerintahan, Raja Buleleng dibantu oleh badan penasehat pusat yang disebut pakirankiran i jro makabehan. Badan ini terdiri dari para senapati dan pendeta Shiwa dan Budha. Badan ini berkewajiban untuk memberikan interpretasi dan nasihat kepada raja atas berbagai isu yang muncul di masyarakat. Senapati bertugas di bidang keadilan dan pemerintahan, sementara pendeta menangani masalah sosial dan agama.

3. Kehidupan Ekonomi

Kegiatan ekonomi masyarakat Buleleng didasarkan pada sektor pertanian. Gambaran tentang kehidupan ekonomi masyarakat Buleleng dapat dipelajari dari prasasti Bulian. Dalam prasasti ada beberapa istilah yang terkait dengan sistem budidaya seperti sawah, perlak (ladang kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), mmal (ladang di pegunungan), dan kasuwakan (sawah irigasi). Pada masa pemerintahan Marakamatangkaja kegiatan pertanian berkembang pesat. Perkembangan ini terkait erat dengan penemuan urutan penanaman padi, yaitu mbabaki (pembebasan tanah), mluku (pembajakan), tanem (penanaman padi), matun (penyiangan), ani-ani (pemakan nasi), dan nutu (berdebar Nasi). Dari uraian tersebut sangat jelas bahwa selama masa pemerintahan penanaman Tanah Marakatapangkaja sudah maju dan tidak jauh berbeda dengan pengolahan tanah saat ini.

Perdagangan antar pulau di Buleleng cukup maju. Kemajuan ini ditandai dengan banyaknya pedagang yang singgah dan berdagang dengan masyarakat Buleleng. Komoditas perdagangan Buleleng yang terkenal adalah kuda. Dalam prasasti Lutungan disebutkan bahwa Raja Wungsu Putra melakukan transaksi perdagangan tiga puluh kuda dengan pedagang dari Pulau Lombok. Informasi tersebut membuktikan bahwa perdagangan pada saat itu sudah maju karena kuda itu binatang besar sehingga membutuhkan kapal besar untuk mengangkutnya.

4. Kehidupan Beragama

Agama Hindu Siwa mendominasi kehidupan masyarakat Buleleng. Namun, tradisi megalitik tersebut masih berakar kuat di masyarakat Buleleng. Kondisi ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa bangunan pemujaan seperti punden berundak disekitar candi-candi Hindu. Pada masa pemerintahan Janasadhu Warmadewa (975-983) pengaruh Budha mulai berkembang di Buleleng. Buddhisme berkembang di beberapa tempat di Buleleng seperti Pejeng, Bedulu, dan Tampaksiring. Perkembangan Buddhisme di Buleleng ditandai dengan ditemukannya unsur-unsur Buddhis seperti patung Buddha di gua gajah dan stupa di pura Pegulingan.

Hinduisme dan Buddhisme mulai mendapatkan peran penting selama masa Raja Udayana. Pada saat ini, pendeta Siwa dan brahmana Buddha ditunjuk sebagai salah satu penasihat raja. Sesuai dengan kepercayaan Hindu, raja dianggap sebagai penjelmaan tuhan. Dalam prasasti Poh Asem yang digambarkan Wungu Son adalah penjelmaan Dewa Hari (Wisnu). Bukti ini menunjukkan bahwa Raja Anak Wungsu dan orang-orang Buleleng adalah pengikut wainawa, pemuja Dewa Wisnu. Selain Hinduisme dan Budhisme, di Buleleng berevolusi sekte-sekte kecil yang menyembah dewa-dewa tertentu, seperti sekte Ganapatya (pemuja tuhan Gana), dan Sora (pemuja dewa matahari).

5. Kehidupan Sosial dan Budaya

Para ahli memperkirakan keadaan masyarakat Buleleng selama Dinasti Warmadewa tidak jauh berbeda dengan orang Bali saat ini. Pada masa pemerintahan Udayana, orang-orang tinggal berkelompok di daerah yang disebut wanua. Mayoritas orang yang tinggal di wanua adalah petani. Wanua dipimpin oleh seorang tetua yang dianggap pintar dan mampu melindungi masyarakat.

Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, masyarakat Buleleng terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu caturwarna dan kasta luar (jaba). Divisi ini didasarkan pada kepercayaan Hindu yang dipegang oleh masyarakat Bali. Raja Anak Wungsu memperkenalkan sistem penamaan untuk anak-anak yang pertama, kedua, ketiga dan keempat dengan nama pengenal sebagai berikut:

  1. Anaka pertama disebut wayan. Kata wayan berasal dari wayahan yang berarti tua.
  2. Anak kedua diberi nama made. Kata made berasal dari kata madya yang berarti tengah.
  3. Anak ketiga disebut nyoman. Kata nyoman berasal dari kata nom yang berarti muda.
  4. Anak keempat disebut ketut. Kata ketut berasal dari tut yang berarti dibelakang.


Selama masa pemerintahan Anak-anak Wungsu, peraturan dan undang-undang diberlakukan dengan adil. Orang diberi kebebasan berbicara. Jika orang ingin mengungkapkan pendapat mereka, mereka didampingi aparat desa untuk langsung menghadap raja. Kebebasan membuktikan Raja Wungsu Putra sangat prihatin dengan nasib orang-orang yang dipimpinnya.

Komunitas Buleleng telah mengembangkan berbagai kegiatan kesenian. Kesenian berkembang pada masa pemerintahan Raja Udayana. Pada saat itu, seni terbagi menjadi dua jenis yaitu kesenian istana dan kesenian rakyat. Dalam seni istana, dikenal sebagai penyanyi istana yang disebut paganding sang ratu. Selain itu, juga dikenal seni patapukan (topeng), pamukul (gamelan), banwal (dagelan), dan pirus (lawak). Jenis seni yang berkembang di kalangan masyarakat antara lain awayang ambaran (wayang keliling), anuling (peniup seruling), atapukan (permainan topeng), parpadaha (permainan genderang), dan abonjing (permainan angklung).

Demikianlah penjelasan mengenai sejarah Kerajaan Buleleng Bali, semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman sekalian. Dari penjelasan di atas, kita bisa lihat bahwa budaya yang dimulai pada zaman kerajaan bali masih ada, budaya itu masih dipertahankan sampai sekarang. Penamaan anak misalnya, kita masih bisa menemukannya pada nama orang-orang asli Bali. Terima kasih sudah berkenan berkunjung.

Sejarah Lengkap Kerajaan Buleleng (Bali) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Aleesya Fathoni

0 komentar:

Posting Komentar